Peluk

Rasanya ada rindu, ada masa yang ingin kupeluk

Rasanya ada kenangan yang ingin ku rengkuh

Bukan aku mau menengok lagi

Aku hanya ingin melirik sekali

Aku hanya rindu beberapa kali

 

Rasanya ada rindu yang harus kupeluk

Gunung Gede – Life is About Learning

A friend of mine said, “be careful with mountain, once you knew it, you might so deeply in love”.

———————————————————-

Dua minggu yang lalu, saya pergi mendaki ke Gunung Gede sama teman-teman saya. Entah, saya juga enggak kepikiran bakalan naik gunung beneran. Dari dulu saya memang ngidam banget naik gunung. Secara saya anak bungsu, jadi bapak sama ibu kurang begitu tega kalau saya pergi kemana-mana. Kemarin pula saya sempat sedikit kecewa, perijinan buat naik gunung Gede ini mashaAllah ribetnya. Teman-temans saya juga udah banyak yang mulai ragu mau naik apa enggak. Mungkin saya yang paling kecewa kali ya, soalnya udah ngebayangin serunya duluan.

Okay, back to topic.

Saya hiking sama teman-teman kantor, tapi ada additional juga teman-teman yang memang ‘asli’ pendaki. So here they are:

Om Sony : we called him “om”, karena dia yang usianya paling dewasa di antara yang lain

Givi : mahasiswa geodesi tingkat akhir yang doyan banget hiking dari kecil (gitu kata Tiara)

Tiara : teman kantor saya yang jadi centre of attention, karena dia yang ngenalin kita semua jadi satu di pendakian ini

Rahma : teman kantor saya, sama pemulanya dengan saya

Gaby : ini teman kantor saya juga, cici kece yang tetep cantik walaupun udah keringetan nyampe puncak gunung

Aris : teman sekampusnya si Givi, pendaki juga

Mega : temannya Givi juga, mahasiswa Unpad yang keliatannya doang cool, padahal alay. Haha. Maafin mamah ya, Meg.

Ali : adik seperguruannya Om Sony, hehe, temannya Tiara di rumah. Paling muda di antara kita, tapi pendaki asli

Acong : nama aslinya Anthony, entah kenapa dipanggil Acong. Badannya kecil, tapi gak bisa diremehin. Dia pendaki asli juga.

Dimas : teman kantor saya, pernah mendaki satu kali ke Gunung Gede juga

Sekian perkenalannya. :P

———————————————–

Kita mulai first step dari jalur Gunung Putri. Deg-degan, nervous, khawatir, campur aduk deh di benak saya. Ini bener-bener kali pertama saya naik gunung. Dan kita pendakian malam. Otomatis double-worry deh.

Kita berangkat dari pukul 2 dini hari. Langit alhamdulillah lagi cerah banget. Dari basecamp, saya bisa lihat garis horizon lampu-lampu kota beradu sama bintang-bintang. Cuaca lumayan bersahabat, angin juga enggak terlalu dingin walaupun suhu di sana waktu itu sekitar 16 derajat C.

Insiden pertama sebelum pos 1, sepatu cici Gaby nyemplung ke lumpur. Haha. Memang ada kubangan lumayan lebar di tengah jalan waktu itu. Mungkin malam kemarin abis hujan deras kali ya. Kasian Om Sony musti ngaduk-aduk lumpur buat nyari sepatu Cici Gaby. Udah berasa kayak ngaduk undian ya, Om? haha.

Finally arrived di pos 1 setelah lewat jalan yang benar-benar terjal dan licin. Kata orang dan menurut website, jalur Gunung Putri memang terkenal terjal, tapi katanya juga jalur ini lebih cepat dibandingkan dengan 2 jalur yang lain (ada 3 jalur untuk ke puncak Gunung Gede, yaitu Jalur Salabintana, Jalur Gunung Putri, dan Jalur Cibodas).

Di pos 1, niatnya kita mau buka tenda 1 dan ngupi-ngupi cantik. Eh tapi malah ketemu orang -yang kayaknya- mabok. Ngigo enggak jelas gitu. Ya sudah, kita putuskan buat lanjut jalan sampai ke tempat yang agak nyaman untuk istirahat.

Akhirnya kita buka tenda di dekat bangunan tua (entah itu pos juga apa bIMG_20141115_054622ukan, kayaknya sih bukan). Udah jam setengah 4 pagi waktu itu. Kita merem sebentar, minum teh dan ngobrol haha-hihi. Di tempat ini, saya baru sadar kalau Mega yang tadinya cool ternyata ngocol dan kocak parah. Dan cowok-cowok pendaki itu baiknya mashaAllah :). Kita dibuatkan teh hangat. Simple thing but deep meaning gitu kan rasanya. Padahal baru kenal.

 

Jam setengah 7 kita mulai beres-beres tenda dan carrier. Siap nanjak lagi!

Karena udah pagi, tanjakan yang tadinya cuma terasa di kaki, jadi terasa juga di mata. Beneran itu tanjakan tinggi-tinggi. Kaki rasanya seperti ketarik-tarik tiap melangkah. Nah, ada pelajaran lagi buat saya. Kali ini saya lihat dari Om Sony, Ali, Dimas dan Givi. Mereka kalau nanjak gak pernah lihat ke atas. “Jangan lihat tanjakannya, nunduk aja,” entah siapa yang bilang begitu, entah Om Sony, Ali, Dimas apa Givi (?). Jadi saya nunduk mulu jalannya. Dan memang, rasanya beda, lebih enteng gitu.

Rahma dan Gaby yang fisiknya paling kurang kuat di antara kita. Tapi alhamdulillah, setiap mereka berdua minta istirahat, kita juga bisa istirahat. Saya apalagi, aslinya juga udah ngos-ngosan setengah mati. Tapi coklat coki-coki sama madurasa membantu banget (udah mirip iklan belum?). Ini pelajaran lagi buat saya. Bahwa mendaki itu enggak boleh egois, harus bisa tenggang-rasa dan peduli. Apa kabar kalau kamu kondisinya seperti itu? Lemes, capek, tapi ditinggalin. Pasti sedih kan yah..

Finally we were almost reached Surya Kencana (camp before summIMG_20141115_083349it). Sebelum tanjakan terakhir, kita istirahat lumayan lama. Kita berbagi roti selai susu vanilla. Obrolan-obrolan kocak pun lancar jaya. Di sini saya baru tahu, kalau Mega suka nyanyi, saya berasa ada teman duet. Haha. Di sini saya juga baru tahu kalau ada pendaki di tim kita yang namanya Aris. Parah sih, saya parah banget baru tahu. Aris ini dari awal jalan sampai udah di atas selalu diem. Enggak pernah ikut ngobrol. Di sini juga, Rahma sama yang lain mulai punya ide buat bikin silsilah keluarga. Entah, haha. Saya juga kurang paham gimana tiba-tiba kita bisa bikin keluarga kecil di pendakian ini.

Sekitar 15 menit kita istirahat, dan lanjut cuss nanjak lagi. Hutan mulai berkabut, ada gerimis yang lewat (gerimis dari kabut). Saya mulai pasang gloves lagi yang sebelumnya sempat saya lepas karena gerah. Cuaca mulai buat saya khawatir kalau bakal ada badai di Surya Kencana nanti.

Makin lama tanjakan-tanjakan ini makin kejam. Lutut ketemu dagu udah jadi biasa. Teman-teman udah makin berpencar. Tiara, Ali dan Dimas di paling depan. Saya, Mega, dan Aris ada di tengah. Om Sony, Rahma, Gaby, Givi, dan Acong ada di paling belakang. Mulai payah, mulai nyerah. Aris dan Mega makin jauh di atas. Akhirnya saya ditemani Om Sony di sepanjang tanjakan. Ada pelajaran lagi di sini.

Saya sempat bertanya, “kira-kira berapa jam lagi nyampe camp Surya Kencana, Om?”. Dan si Om Sony bilang, “Jangan diitungin, jangan ditungguin, dinikmatin aja”. Okay Om. Siap. Saya jalan terus lurus nanjak. Sampai akhirnya ketemu orang jualan pop mie. Haha, ternyata saya sudah sampai Surya Kencana! Dimas, Tiara, Aris, Mega sudah menunggu rupanya.. hehe. Alhamdulillah.

Rasanya ada magnet di ujung-ujung bibir saya ketika melihat ciptaan Allah yang semegah ini. Padang yang luaaaaas sekali dan banyak tumbuhan edelweiss di sekelilingnya. MashaAllah, subhanAllah.. Maha Suci Allah yang menciptakan segala relief rupawan ini. Sayang, edelweiss sedang tidak mekar. Jadi memang sedikit gersang. Tapi keindahannya sama sekali tidak berkurang :). Rasa capek dan bosan di tanjakan-tanjakan tadi entah kabur kemana. Mungkin ada energi hisap kebosanan di sini. Haha.

Beberapa menit berlalu, akhirnya Rahma dan yang lain datang. Ekspresi mereka hampir sama seperti saya. Tersenyum lega. Padahal ini baru Surya Kencana, belum puncak Gunung Gede.

IMG_20141115_120421

Kita istirahat sebentar. Mengumpulkan energi untuk jalanan datar ke depan. Sambil sesekali mencuri foto. Hehe.

Processed with VSCOcamSetelah sekitar 15 menit berjalan kaki, kita bertemu Ali yang ternyata sedari tadi nyari spot buat tenda. Ada sedikit konflik sih di sini sebenarnya. Tapi alhamdulillah, nothing serious.

Kita memutuskan untuk mendirikan tenda di dekat sumber air. Acong, Aris, Givi dan Dimas sudah mendirikan tenda, sementara saya, Tiara, Gaby, dan Rahma menyiapkan makan siang. Sementara Mega masih ramai minta disuapin roti. Haha

Menu kita siang itu ada oseng tempe+buncis ala ala magic. Kenapa “magic”? Karena kita pakai bumbu magic serba guna (ok, kalau yang ini sudah mirip iklan belum? …..lupakan…). Berasa main masak-masakan. Tapi seru. Agak kecewa, karena yang bawa beras ternyata hanya saya, Tiara, Rahma dan Gaby. Yang lainnya lupa bawa dan bahkan enggak tahu. Ini yang nyiapin makan kan jadi bingung gimana ngatur porsinya. :( Tapi lagi-lagi alhamdulillah. Teman-teman saya ini baik sekali. Semua kebagian nasi dan lauk. :) What a nice people they are!

Makan siang yang menjelang sore selesai, cowok-cowok mau bantu beresin peralatan makan yang berserakan. Sementara saya tiba-tiba merasa drop. Sore itu badan saya menggigil dan kepala pusing. Saya sama sekali tidak berani keluar tenda, cuaca di luar makin berkabut dan mulai gerimis lagi. Saya berdiam di tenda ditemani Rahma dan Mega. Makin malam, makin menggigil. Mega bilang saya mulai demam, badang saya sedikit panas. Akhirnya Cici Gaby yang menyiapkan malam. Cuma bihun hangat, tapi alhamdulillah banget. Sementara cowok-cowok itu malah udah tepar ketiduran di tenda masing-masing.

Saya disuruh minum obat maag saya (iya, sempat kambuh juga di atas) dan obat demam. Setelah itu, saya tidur pulas sekali. Sampai kira-kira jam 2 pagi, ada suara berisik di luar. Ternyata Om Sony dan Ali udah ‘nyala’ lagi. Cici Gaby yang di sebelah saya menggigil kedinginan. Ali baik banget, sleeping-bag-nya dipinjamkan ke Cici Gaby. Sementara saya alhamdulillah sudah mendingan.

 

Pagi, sekitar jam 5 pagi, Tiara, Mega, Givi, Acong, Aris, dan Dimas sudah bangun. Mereka mau ‘berburu’ sunrise katanya. Saya padahal pingin sekali ikut. Tapi belum berani, karena semalam sempat demam, takut malah jadi tambah drop dan nyusahin teman-teman. Akhirnya saya bantu nyiapin sarapan aja sama Ali.

Pagi itu kita makan mewah. Saya dan Cici Gaby masak sop isi wortel+sosis+jagung+buncis. Ditambah Rahma bikin tempe goreng. Terus masih ada nugget sisa kemarin yang bisa dimasak juga. Ali doong.. punya resep baru. Dia masak teri campur telur rebus. Entah rasanya seperti apa, saya enggak doyan ikan. Tapi kata teman-teman itu enak banget. Haha. Congrats, Ali! :D

Sekitar jam 8 pagi, teman-teman yang tadi ‘berburu’ sunrise sudah turun dan kembali ke camp. Acong membantu saya masak sop. Dan voila! Selesai.

IMG_20141116_085202Here it is our breakfast! Dan oh iya, Rahma bikin pudding sutra juga. Enak lhoh. :D (nih, Ma, saya promosiin).

Kenyang sarapan, kita mulai beres-beres lagi buat siap-siap nanjak ke puncak Gunung Gede! Oh yeah! I’m too excited!

Tapi lupa, kelamaan leha-leha, kaki berasa pegel-pegel lagi. Padahal baru beberapa jengkal dari camp. Mulai ngos-ngosan lagi. Pas mulai masuk hutan lagi, entah saya berapa kali saya minta air minum ke Aris. Badan mulai prepare to be tired lagi deh.

Okay, tanjakan lagi. Tapi lagi-lagi alhamdulillah. Hutan penuh akar ini membantu banget. Jadi saya jalan tapi selalu ada pegangan. Hehe. Tidak begitu lama, Rahma muntah. Kondisinya mulai drop lagi. Kita jalan pelan-pelan sampai akhirnya di puncak.

Puncak lebih mirip pasar. Banyak pendaki lain yang sedang mengambil foto atau duduk sambil ngopi. Iya, di puncak ada yang jual kopi sama pop mie juga. Haha.

Kita berkumpul di satu spot. Berfoto sama-sama. Dan kelegaan luar biasa ini, mungkin bukan cuma saya yang bisa merasa. Mungkin perasaan macam ini, selalu dirasakan oleh pendaki-pendaki lainnya.

—————————————–

Cerita belum selesai. Kita harus berjuang turun sekarang. Huwoooh!

Saya mulai drop lagi. Kepala saya pusing dan sakit. Akhirnya di sepanjang jalan saya ditemani Aris (setelah didelegasikan oleh Givi sebelumnya). Kami atur barisan (halah). Cowok-cewek begitu jalannya. Karena mulai turun hujan besar yang membuat kita harus pakai jas hujan. Pergerkan mulai susah karena licin. Saya sempat terpeleset satu kali bahkan.

Kita sampai pos Kandang Badak pas kira-kira jam 4. Istirahat, masak mi rebus dan minum teh. Kepala saya masih pusing. Teman-teman yang baik itu akhirnya meminta saya mengurangi barang bawaan saya (yang padahal isinya dikit banget).

Kami lanjutkan perjalanan 20 menit kemudian.

Track masih lancar jaya. Walaupun gerimis, tapi jalanannya landai. Alhamdulillah. Tapi hari makin gelap, sedangkan kita seharusnya bisa sampai bawah sekitar jam 9 malam. Tapi melihat kondisi teman-teman, sepertinya kita memang akan sampai lebih lama.

Sekitar jam 8 malam, kami sampai di air terjun air panas. Gelap, dan kita cuma berbekal headlamp. Kita saling berpegangan-tangan. Khawatir kalau jatuh ke jurang. Karena di sisi kiri kami, ada jurang yang pagarnya rusak.

Perjalanan ternyata masih jauh. Sedangkan saya sudah mulai bosan sama jalanan bebatuan yang belum ada ujungnya itu.

Sampai di pos 3 (kalau enggak salah), kami dipisah menjadi 2 grup. Grup 1 yang mau jalan cepat sampai bawah, grup 2 yang mau jalan pelan-pelan. Rahma drop lagi. Parah, kakinya lemes dan benar-benar sakit (saya rasa gitu, soalnya dia jalannya udah benar-benar terseok-seok). Saya memilih ikut grup 1 padahal kaki saya sebenernya juga gemetar dari tadi. Sebenernya tidak boleh dipaksakan, tapi sudah malam banget, yang ada di pikiran saya cuma sampai bawah dan mengabari bapak dan ibu kalau saya baik-baik aja. Kebayang pasti kan, saat itu udah jam 10 malam dan anaknya belum pulang. Hiks.

 

Akhirnya grup 1 ada saya, Tiara, Om Sony, Aris, dan Dimas. Dan di grup 2 ada Rahma, Givi, Cici Gaby, Acong dan Mega.

Di tengah jalan, headlamp saya mati, Aris minjemin headlampnya ke saya dan dia pakai senter dari powerbank. Tuh kan, benar kata saya, alhamdulillah saya ketemu orang-orang baik di sini.

Kita sampai di air terjun Cibereum. Jalanan datar..lumayan bikin kaki yang tadinya tegang jadi sedikit rileks. Kata orang, di situ kawasan yang sering ada harimau-nya. Penasaran sih, tapi enggak ada yang muncul.

Finally kita sampai di basecamp jam setengah 12 malam. Dan…berasa bego.. handphone saya ada di Acong, yang notabene ada jauh di belakang dan belum sampai basecamp. Panik. Mau ngabarin bapak, tapi handphone enggak ada.

Miracle, alhamdulillah mereka sampai setengah jam kemudian. Rahma masih kelihatan letih dan pucat. Rambutnya basah kena keringat. Proud of her. Alhamdulillah semua selamat dan sehat.

Kami istirahat 10 menit dan lanjut menuju ke bawah. Ke warung umi, kalau kata Om Sony. Itu warung langganan Om Sony dan Ali kalau habis nanjak.

Perjalanan ke warung umi memakan waktu kira-kira 10 menit. Jalanan sudah datar, tapi kaki rasanya malah lebih sakit. Dan heran, Givi masih bisa lari-lari. Dia memang anak ajaib. Kita jalan nyeret-nyeret, dia lari.*tepuk jidat*

Okay. Sampailah kita di warung umi. Om Gotik udah nunggu di sana dari jam 3 sore. Oh iya, lupa cerita. Jadi Om Gotik itu adalah temannya Tiara. Dia yang mengantar kita sampai basecamp pendakian. Dan Dia juga yang jemput kita dan mengantar pulang nanti. And you know, setelah menunggu selama itu, he only said, “enggak apa-apa.. yang penting kalian semua sehat dan selamat kan..”. MashaAllah. Mereka baiiiik banget.

Sudah jam setengah 3 pagi. Setelah selesai makan, kita semua saling berpamitan. Sedih sih. Rasanya sudah sedekat itu dengan mereka. Padahal baru kenal 2 hari. Bahkan kita sudah punya silsilah keluarga :’)

Kita pulang dengan rasa rindu. Berpelukan dan toss ramai-ramai. Ada rasa kehilangan padahal belum benar-benar pergi. Hehe.

Dan itu tadi cerita singkat saya tentang pendakian kemarin. Seru, kocak, haru, kecewa, lega, bahagia campur aduk jadi satu. Banyak pelajaran di dalamnya yang saya bisa ambil.

Seperti kata entah Dimas atau Givi, “Jalannya nunduk, jangan dilihat ke atas”. Coba kita buat analogi. Sama seperti kehidupan. Makin tinggi kita, makin merunduk kita seharusnya. Melihat ke atas enggak akan pernah ada habisnya. Sudah sewajarnya kita menyadari bahwa ada yang lebih tinggi dari kita.

Dan juga kata Om Sony, “jangan diitung, jangan ditungguin, nikmatin aja perjalanannya,”. It’s still about life. Life is not only about waiting and counting. All you need to do is enjoying the way. Menikmati hidup, mengambil berkah di setiap sisinya.

Melihat Ali, Rahma dan Gaby, saya belajar bagaimana untuk bisa lebih peduli dan tidak egois. Melihat Tiara, Dimas dan Mega, saya belajar bagaimana untuk bisa gigih dan berusaha keras. Melihat Om Sony dan Givi, saya belajar untuk selalu lebih bijak. Melihat Om Gotik, Acong dan Aris, saya belajar untuk lebih sabar dan memahami. Melihat gunung ini dan merasakan perjalanan 2 hari yang luar biasa ini membuat saya belajar banyak tentang hidup. Bahwa apa yang saya hadapi belum seberapa letihnya. Kalau mendaki saja saya bisa untuk tidak mengeluh, kenapa saya harus mengeluh untuk kehidupan yang sejatinya lebih mudah daripada pendakian ini. Life is up and down, controlling ourself is the most important. Do not get low when we’re down, do not get high when we’re up. Life is about to learn.

Dan saya..apalagi yang bisa saya lakukan selain berjuang dan terus bersyukur..

Alhamdulillah :)

Processed with VSCOcam

 

p.s.: Well, saya rasa..saya juga sudah jatuh cinta dengan gunung. Hehe

Cerita Jingga

Aroma senja masih kuhirup lega,

terasa sampai menusuk ke rusuk

 

Dia ada tanpa antara..

Seolah pagi tak memulai cengkerama

Pula malam tak melantunkan irama

 

Terjaga aku akan nyata, jingga segera sirna..

 

Kepadanya aku bermanja,

tergelak oleh tawa pujangga jingga,

terbelai nyaman oleh senandung rupawan..

 

Terjaga aku akan nyata..

Merengkuh cakrawala yang pudar kedua kalinya

 

Tapi percuma..

Memang jingga harus segera sirna..

Coretan Iseng, Cuekin Aja

Hai my blog-that-never-been-read-by-anybody haha. Well that was what I guess.

Apa kabar dunia maya? Baik? Makin payah? Ah enggak enggak.. makin kece sih sekarang. Makin canggih, tapi payah si penggunanya. Contohnya gue. Kenapa payah? Karena penggunanya makin kecemplung ke dunia ini, autis pula. Ah udahlah, beda jaman beda pula peradaban. Gue sebagai salah satu generasi 90an merasakannya. Halah.

 

Oh iya, ini lagi iseng. Sebenernya lagi ngerjain tugas kuliah yang udah lewat deadline. Kemarin-kemarin gue sakit dan gak sempet ngerjain tugas. Ngeles sih, aslinya kebumbuan males juga. Hoams..gak ngerti deh gimana caranya ngilangin sifat parasit satu itu. Nguntungin enggak, kecanduan iya.

 

Well, blog. Gue mulai bosen sama kerjaan di kantor. Entah kenapa. Sekarang-sekarang ini gue kalo berangkat sering siang, pulang pengen cepet-cepet, enggak fokus dan enggak konsentrasi, dan blah blah blah kepayahan yang lain. Sempet kepikiran buat resign sih. Tapi worth-it gak sih? Secara gue bayar duit kuliah juga dari kerjaan sekarang. Terus kalau resign gitu gue mau cari kerja dimana lagi. Well life isn’t stuck here sih memang, tapi(lagi-lagi) males. Males musti adaptasi sama lingkungan baru.

Gue sih belakangan kepikiran buat bikin usaha sendiri. Kemarin pernah mau usaha bikin tas sama temen, ujung2nya mandek. Terus mau usaha bikin kaos, juga berhenti gitu aja. Nah sekarang gue malah kepikiran buat usaha scrap-book, papercraft, or anything handmade. Gue suka banget mainan kertas. Sempet pingin buka kios papercraft kecil gitu someday. Karena nama “paper studio” udah dipake, mungkin gue bisa pakai nama “Dee’s Paper”. Ah elah maksa amat namanya. Malah kedengeran kayak “dispenser”.

 

Sudah sudah. Berhenti ngigo.

Gue balik ngerjain tugas ya!

See ya blog-yang-jarang-terjamah :D

-it should be a hidden draft-

It takes longer than I ever thought before..

I thought I will survive maybe for 3 years only. But I found myself still keeping that feel till today, this minute.

Until the time he knows what I feel inside, until the time he says no or yes. Maybe I will keep it here until an uncountable time.

What I want is only he knows that..I do miss him. I want to see, at least his eyes. I want to hear, at least his laugh. I want to say sorry to have this feeling so far. But I let myself in a silence.

Well not really, I ever said that I was loved him. But he never know that it’s not only “ever” but “still”.

Dear you there, I might seem crazy, but I just miss you and all the steps we have made together after school. I miss of being your little friend, whom you always yelled and I always got angry. I miss of being the girl who loves that wall-magazine whom you ever turn the light onto it. I miss of being the one who always borrow your books just because I want to have some conversation.

 

I do miss you.

 

Memories of Mine

Hola!

Hi, blog. How are you without me? Hope you are not getting upset of me. I’m kinda act so busy sometimes. Hehe.

Well I just checked the notification and got that 19 days ago was my WordPress-anniversary. That makes me remember, I created this account when I was in college. My seat was in the last row and there was just a few people in computer lab. At that time, I thought this blog will be used for all my poetries, songs I loved, and some stories of mine. But finally, this blog was just like…a room that never been used. Okay maybe I wrote some potries and stories, but not in daily. Too many reasons to say “I’m lazy to write this”, “I don’t have time to post that”, and so on.

Getting upset of myself sometimes. When I was little, I do really want to be a writer. I dreamed to be a novelist. But until this second, there’s no story I’ve ever written.

Here I am. A young lady, work as a marketer in a garment company. From 8.30 am to 8.30 pm, I’m just a zombie. And I’m back as a normal when lunch time and when I’m home. Why? Because this job is really really give me so much pressure. Well, it sounds exaggerating. But it doesn’t mean I don’t like my job. I like it, I enjoy it. But I cannot love it.

Two years already. I’ve worked there for 2 years already. And I have enough salary. But again, doesn’t mean that I don’t like my job, I  just cannot love it.

Just like what I’m saying above, when I was little, I dreamed to be a novelist. And not only that, I also wanted to be an astronaut, a singer, an engineer, and sometimes I wanted to be a teacher as well.

I was 17 and I tried to be …..a marketer. Haha. I was a accessories seller when I was in high-school. I got so many costumers. And by my own money, I could buy some books by myself, I could hang-out with my friends without asking some money from my parents, I could buy a gift when my bestfriend had a birthday party. I was proud of myself at the moment.

And I also had ever become a vocalist of my class-band. There was a school anniv. party and each class must have a band to join the competition. Believe it or not, my band got 2nd place and I become the best vocalist.

But every happiness, might always have a sad-side.

There was an “accident” in my family. I got so stress and seemed like I didn’t have any spirit to go to school. I cried every night, confused of what I should do, worried of everything that might be happened sooner or later. (I will not tell you here about the problem. Hehe. It is a privacy :P ). I didn’t go to my band first outdoor-performance in a cafe. And I even escape from home and tried to go somewhere I didn’t know. Then my bestfriend, Kimmi, found me walking alone. She yelled, and asked me to be calm. Well finally she brought me home again.

That was really the hardest thing I’ve been through.

Later, when everything seemed back to normal, my family and I  moved here. To the rain-city.

I studied in a school of garment for 1 year and after that I got a job in a company I’ve been working until today.

There was a lot of story from my first day of working unti today, of course. I have a super-duper-fussy senior. She called me on 5 o’clock in the morning, and oftenly called me in a night before I sleep just for told me there was an email from our partner. Oh my God.

Feels like I will quickly resigned after 2 years contract has been finished. But what I did until today? I’m still surviving and enjoying my oftenly “morning-call”.

 

Well that’s life, a journey of every lessons. You’ll get the meaning of happiness, sadness, proud, selfish, jealous, win, everything. And there’s no people who can describe it. You, yourself who has the meaning of it. Everybody has their own thought. And so are you.

 

Good night! Have a nice weekend :-)

Find Me..

I’m tiredly hiding from my feeling,

missing, losing, and keep ignoring anything about you

Hear me, I call you everytime

Blindly, I came to you but found you nowhere

 

I’m dreaming, sad and mad I just can see you there..

wondering why I cannot run towards,

wondering why I cannot let you go

wondering why it’s difficult even when I shout..

 

Find me, when the summer’s ends..

when the falls’ going to be done..

Find me, cause I won’t come back..

Here I will stay, here I will lay..

Here I will have my life for now and tomorrow,

until I’m done with my last breath

 

So, please find me..

 

ORCID

Bersama Mencerdaskan Generasi Bangsa

bsicrangga

Live, Love and Lie

Sahabat Dari Hati

Tausiyah materi islami tarbiyah akhwat muslimah puisi ukhuwah da'wah

the story must go on

and i'm still young....

cet4k cet1k cet0k

apa yang sempat terlintas, tertangkap lalu terluapkan

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Culture Therapy

When the social and cultural phenomenon meet text and literature

Cumakatakata

Just want to say something.

@berlarijauh

Blog Rino Rain

ada cerita apa hari ini?

si pemakan segala

Crabbed Handwriting

Dreams are today's answers to tomorrow's questions.

akihiko heroes

Change your mind and you can change the world

lindylecoq

An exploration of human being after decades of human doing.

Jim Caffrey Images Photo Blog

photography from the ground up

Moslem's Figure & All About Islam

Just another WordPress.com site

Blog EEPIS D4 Teknik Informatika B

Just another EEPIS blog

If this a Wonderland

if this a Wonderland

Pāramitā

Life Traveler

kimberlydee.

Just another WordPress.com site

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.